Informasi Sidoarjo on http://www.infosda.com

Selasa, 09 Oktober 2012

Jawa Timur Termasuk Propinsi yang Bebas Penyakit Rabies

Kementerian Kesehatan mencatat, dari 33 provinsi, baru sembilan  provinsi yang dinyatakan sebagai daerah bebas dari rabies yaitu Provinsi Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Papua dan Papua Barat.
"Sampai dengan tahun 2012 ini kasus rabies menyebar di 24 provinsi di Indonesia, dengan Provinsi Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bali, Maluku, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Lampung,"  tutur  Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama pada peringatan Hari Rabies Sedunia (HRS), di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (9/10/2012).
Rabies pada hewan sudah ditemukan sejak tahun 1884, dan kasus rabies pada manusia pertama kali ditemukan pada tahun 1894 di Jawa Barat. Hewan yang dapat menularkan rabies adalah hewan berdarah panas terutama anjing, kucing, kera, dan kelelawar. Sapi, kambing dan domba dapat menderita apabila digigit oleh hewan penular rabies. Di Indonesia 98 persen  kasus rabies   ditularkan akibat gigitan anjing dan 2 persen akibat gigitan kucing dan kera.
Penyakit rebies ini juga telah mendapatkan perhatian dunia. Hasil sidang World Health Organitations  SEARO pada November 2008 di Jakarta, menetapkan Rabies sebagai prioritas setelah Flu Burung (FB). Bahkan sudah dicanangkan Hari Rabies Sedunia (HRS) jatuh setiap  tanggal 28 September.
Rabies  adalah penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat disebabkan oleh Virus (Lyssa virus), menyerang manusia dan hewan. Rabies ditularkan kepada manusia melalui gigitan atau jilatan pada luka terbuka oleh hewan yang menderita rabies. Penyakit ini bersifat fatal atau selalu diakhiri dengan kematian namun dapat dicegah.
Lantas bagaimana gejala rabies pada manusia? "Biasanya  diawali dengan demam, nyeri kepala, sulit menelan, hipersalivasi, takut air, peka terhadap rangsang angin dan suara, kemudian diakhiri dengan kematian," tutur Yoga.
Ditambahkannya, pengendalian rabies telah dilaksanakan secara terintegrasi oleh dua sektor yang bertanggungjawab yaitu sektor Peternakan untuk penanganan kepada hewan penular dan pengawasan lalu lintasnya, serta sektor Kesehatan untuk penanganan kasus gigitan pada manusia dan penderita rabies (lyssa).
Dengan telah diterbitkannya Perpres no 30 tentang Pengendalian Zoonosis yang multisektor dengan melibatkan 17 Kementerian dan Lembaga terlibat didalamnya, sehingga Pengendalian zoonosis terutama rabies dapat lebih efektif dan optimal sesuai harapan yakni Indonesia Bebas Rabies tahun 2020.
Pemerintah telah melakukan upaya untuk pengendalian rabies yaitu dengan Membuat buku pedoman pengendalian rabies,  advokasi sosialisasi lintas sektor/lintas program  terkait di tingkat daerah,  pembentukan/pengaktifan TIKOR (Tim Koordinasi) Rabies di setiap tingkatan.
"Juga pelatihan dan sosialisasi pd petugas kesehatan (dinkes, RS pemerintah/swasta, puskesmas); Pembentukan Rabies Center (pusat penanganan kasus gigitan hewan penular rabies/GHPR, bisa di Puskesmas atau RS); Penyelidikan epidemiologi dan surveilans aktif (pencarian kasus GHPR) secara terpadu; Workshop dan pertemuan expert Pengendalian Rabies; Meningkatkan capacity building petugas dengan mengikuti pelatihan-pelatihan di luar negeri; Pembuatan media penyuluhan rabies; serta melakukan komunikasi, edukasi dan informasi (KIE) kpd berbagai lapisan masyarakat," katanya.
Peringatan HUT Rabies Sedunia dihadiri  Gubernur NTT beserta jajaran pemerintah daerah provinsi, Bupati Floresta beserta jajaran pemerintah daerah kabupaten, Jajaran Kementerian Kesehatan yang terkait, Dirjen Peternakan beserta Jajaran Kementerian Pertanian yang terkait serta Komnas Pengendalian Zoonosis.
Sebelumnya, Indonesia telah 3 kali memperingati HRS, yakni pada tahun 2009 yang dilaksanakan di kabupaten Tabanan Bali; tahun 2010 di kabupaten Badung Bali dan tahun 2011 di Kota Denpasar Bali. Peringatan HRS kali ini d NTT mengambil tema "Tokoh Agama Peduli Rabies". Tema ini bertujuan meningkatkan komitmen Pemerintah Daerah dan peran serta masyarakat pada umumnya serta peran aktif tokoh agama pada khususnya dalam dalam program pengendalian Rabies menuju Indonesia Bebas Rabies 2020.
Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Tukar Link Disini :

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Templates


Informasi Sidoarjo 2012. Diberdayakan oleh Blogger.