Informasi Sidoarjo on http://www.infosda.com

Jumat, 09 November 2012

Merokok: Sebuah Aturan yang Kini Hanya Menjadi Pajangan

Pertama…
Diberbagai tempat sering saya lihat simbol dimana yang artinya “Dilarang merokok!”. Namun, diarea itu lah dimana saya tetap saja melihat banyak orang berlalu-lalang sedang menghisap rokok, padahal telah ada simbol bahwa diaera itu dilarang merokok, entah karena letak simbol aturan itu ada dipojok kiri atas jadi seolah tak terlihat, apa karena itu hanya dianggap sebagai pajangan kampus saja?
Toh yaa kita bukan sebagai anak sekolah lagi, yang harus dibilangin, dinasehatin, diomelin sama gurunya lagi. Ini tuh udah mahasiswa? Masa iya dosen harus bilangin lagi, nasehatin lagi, tidaak!
Mahasiswa itu belajar untuk mandiri, bukan hanya dalam belajar dikelas saja, tapi secara keseluruhan. Sehingga, seterusnya bisa menaati tata aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat. Memang ini semua terlihat sepele, namun akan berdampak tidak baik jika, hal yang sepele saja tidak bisa di taati.
Dimana letak kesadarannya? Dan pola berfikirnya?
Memang saya tidak dan sangat tidak suka mencium asap rokok! Karena baunya sesak di dada. Apalagi ketika merokok diruangan tertutup bukan di alam bebas cenderung yang lebih banyak mengirup asapnya orang-orang yang tidak merokok.
“Yang menghirup cenderung lebih berbahaya daripada yang menghisapnya”
Memang itu hak nya terutama kaum laki-laki yang sudah merokok, tapi toh yaa jangan diarea kampus yang emang bukan tempatnya, bukan areanya. Sebagian kaum perempuan yang tidak suka adanya asap rokok di sekitar kampus dia akan mengeluh. “Please! Respect to ladies , man.. Thankyou
Kedua…
Sering kita lihat tata aturan lainnya sama kasusnya dengan yang pertama terlihat sepele namun, berdampak luar biasa yaitu “jangan membuang sampah sembarangan!” atau “buanglah sampah pada tempatnya!”.
Tapi kenyataannya? Masih banyak saja orag yang membuang sampah dijalanan, mereka berfikir ada tukang sampah keliling, atau ada tukang sapu jalanan. Memang benar ada. Tapi kan kita sebagai manusia pasti punya hati. Mereka bekerja kalau tiap hari, di tiap detiknya orang membuang smaph sembarangan atau dijalanan kapan selesainya tukang sapu dijalan mengerjakan pekerjaannya kalau terus seperti itu?
Dengan upah yang tak seberapa, namun kerjanya sangat lelah sekali terlihatnya, itu sangat tidak sebanding. Mereka bekerja seperti itu semata-mata agar bisa menhidupkan keluarganya, hanya cukup untuk makan saja itu yang mereka cari. Pendidikan, segala macem bukan itu titik tujuan utamanya, seolah-olah hanya untuk sesuap nasi. Kita yang masih diberi nikmat untuk punya pendidikan yang lebih, dimana di tempat kita belajar pendidikan, kita diajarkan bagaimana menghargai orang lain.
Nah! Cobalah kita mulai dari yang kecil saja dulu, seperti buang sampah pada tempatnya, dengan kita membuang smpah pada tempatnya kita sedikit meringankan tugas seorang tukang sapu jalanan, dan kita pun belajar menghargai orang lain, belajar bersih untuk diri sendiri, dsb.
Kalau kita perhatikan!
Akibat banyak orang berlalu-lalang dijalanan membuang sampah di sembarang tempat, apa yang terjadi, jika tidak ada tukang sapu? Tidak menutup kemungkinan daerah yang tidak pernah terjadi banjir akan terjadi banjir bukan? Kalo gitu, sama saja bersihnya lingkungan ini karena tukang sapu gitu? Kalau masih tidak ada kesadaran diri masing-masing.
Sebenarnya yang harus menjaga kebersihan itu kita semua, bukan hanya tukang sapu saja. Marilah kita sama-sama membangun kebersihan bersama dengan menaati peraturan yang ada seperti buang sampah pada tempatnya.
Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Tukar Link Disini :

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Templates


Informasi Sidoarjo 2012. Diberdayakan oleh Blogger.