Informasi Sidoarjo on http://www.infosda.com

Sabtu, 19 Januari 2013

Timbang Badan Para ‘Polisi Gendut’ di Polres Sidoarjo

Tubuh proporsional sangat
penting dimiliki semua orang,
tidak terkecuali penegak hukum,
seperti polisi. Polisi gendut
dianggap kurang bisa “bergerak”
bebas terutama saat di lapangan.
Nah, bagaimana cara Polres
Sidoarjo menyiasati para polisi
gendut di jajarannya. SUASANA di halaman
Polres Sidoarjo pagi itu tidak
seperti biasanya. Selepas
upacara apel, sebagian polisi
dari beberapa satuan terlihat
berkumpul di sisi selatan
halaman Polres Sidoarjo yang
beralamat di Jl Kombel Pol M
Duryat tersebut. Para polisi
yang berkumpul pun juga
sedikit “berbeda” dengan
anggota lain pada umumnya.
Apa itu? Ya, sebagain korps
baju cokelat yang berkumpul
adalah mereka yang memiliki
badan yang di atas rata-rata
proporsional polisi pada
umumnya. Bisa diistilahkan;
polisi gendut. Polisi yang
bertubuh tambun memang
diwajibkan untuk menimbang
badan di dua timbangan badan
yang sudah disiapkan, tak
terkecuali dengan polisi
wanita (polwan). Polwan yang
rata-rata sudah berusia di atas
40 tahun tersebut memang
beberapa di antaranya terlihat
gendut, jika tidak boleh
disebut melar.
Disaksikan Kapolres
Sidoarjo AKBP Marjuki dan
Wakapolres Kompol Fadli
Widianto, awalnya raut wajah
mereka terlihat malu-malu.
Apalagi saat petugas
menyuruh mereka timbang
badan. Beberapa polwan pun
malah ada yang ngumpet di
barisan belakang agar tidak
mendapat giliran timbang.
Tapi apa mau dikata, meski
sudah berusaha sembunyi,
petugas ternyata sudah
membawa daftar nama.
Saat sudah berada di atas
timbangan pun beberapa
polwan juga masih sempatsempat
untuk mengaburkan
kegemukan badannya. Di
antaranya ada yang
menghirup nafas panjang agar
perut kelihatan kempes. Ada
pula yang mencopot sabuk
dengan alasan beban sabuk
ikut membuat berat badan
menjadi lebih berat.
“Saya proporsional kok,”
canda Aiptu Sulistya kepada
petugas kesehatan saat berada
di atas timbangan.
Apapun dalihnya, angka di
timbangan ternyata tidak
dapat diajak kompromi. Saat
jarum timbangan mengena
jumlah angka yang tinggi, dia
pun juga terus berupaya
menutup-nutupi. “Gak berat
kok, Pak,” ujarnya sambil
meletakkan tangannya di atas
angka timbangan sebagai
bentuk upaya menutupi jarum
timbangan.
Sama halnya yang dilakukan
Aiptu Agnes. Ia mencoba
menarik napas panjang untuk
mengempeskan perut. Tapi
karena tidak kuat menahan nafas, apa mau dikata, perut
yang awalnya proporsionalpun
harus kembali ke asalnya.
“Yang penting sehat ya,”
katanya.
Badan yang proporsionalnya
yang dianjurkan oleh tim
kesehatan Polres Sidoarjo
tampaknya memang jauh dari
bentuk badan sejumlah polwan
tersebut. Tinggi badan yang
harus dikurangi dengan 110
agar menjadikan proporsional
membuat badan mereka jauh
dari kata ideal.
Kapolres Sidoarjo AKBP
Marjuki mengatakan, timbang
badan tersebut memang
dimaksudkan untuk melihat
dan mengecek rutin berapa
berat dari polisi yang memiliki
berat badan lebih. Meski
badan gendut, pihak Polres
Sidoarjo tidak akan menyuruh
atau membuat deadline dalam
jangka waktu tertentu agar
polisi tersebut proporsional.
“Sing penting sehat kan.
Badan gemuk apalagi kurus
kalo gak sehat kan percuma,”
katanya.
Meski demikian, ia berpesan
agar para polisi di jajaran
Polres Sidoarjo untuk selalu
menjaga kebugaran badan.
Polisi yang kesehariannya
banyak di lapangan
membutuhkan energi yang
kuat untuk turut membantu
mengamankan kondisi wilayah
Sidoarjo. “Jika kita suruh
harus proporsional secara
cepat, nanti malah badannya
drop dan malah gawat,”
tambahnya.
Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Tukar Link Disini :

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Templates


Informasi Sidoarjo 2012. Diberdayakan oleh Blogger.