Informasi Sidoarjo on http://www.infosda.com

Rabu, 30 Mei 2012

LAPINDO YANG BUKAN LUMPUR ,Mulai Bubur, Ceker, sampai Pentol.

Dia tidak menakutkan, apalagi merugikan. Makanya, tidak pernah sampai ramai didemo warga. Lapindo-lapindo yang ini justru diburu karena bikin ketagihan.
Warung Lapindo
Nama Lapindo terbukti-teruji terjamin bikin pembelipenasaran. Yang memanfaatkannya untuk mendongkrak penjualan pun menyebar di manamana. Misalnya Rofiq, penjual pentol dan es cao keliling.
Sejak 2006, tidak lama setelah semburan pertama lumpur terjadi, dia langsung pakai Lapindo sebagai nama rombong.Pelanggan setianya ya warga sekitar Desa Sumorame, Candi.
Dia tiap hari muter dari sebuah Madrasah Tsanawiyah, tengah kampung, lalu mangkal di halaman pabrik sepatu di Jalan Raya Sumorame, sampai siang. Laki-laki 40 tahun ini merasa sangat berhak pakai nama Lapindo.
Dia meng- klaim sebagai korban lumpur dari Desa Kedungbendo RT 04 RW II. Saat rumahnya ludes diterjang lumpur panas, Rofiq sekeluarga sempat tiga bulan mengungsi di Pasar Baru Porong. “Lalu saya jualan pentol keliling. Biar gampang diingat orang, saya pakai saja nama Lapindo.
Tunggakan Lapindo pada saya masih sekitar Rp 70 juta,” terang Rofiq. Di perumahan Mutiara Citra Asri dan Pasar Ngaban, Tanggulangin, ada juga kuliner bermerek Lapindo. Menunya bubur kacang hijau, yang dijual keliling oleh Edi.
Berbeda dengan Rofiq, Edi sama sekali tidak punya ikatan emosial apa-apa dengan Lapindo. Dia bukan warga Porong, apalagi korban lumpur. Rumahnya jauh di Lumajang sana.  “Semburan lumpur panas itu kan blukutuk seperti bubur jualan saya,” alasan Edi.

0 comments:

Posting Komentar

Tukar Link Disini :

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Templates


Powered By Blogger
Informasi Sidoarjo 2012. Diberdayakan oleh Blogger.