Informasi Sidoarjo on http://www.infosda.com

Senin, 29 Oktober 2012

Bayi Kurang Gizi, Remaja Suka Berkelahi

Jika nutrisi pada 1.000 hari pertama umur anak tidak terpenuhi, akan terjadi gangguan fungsi otak
Tawuran antar pelajar kembali menjadi bahan pemberitaan? Boleh jadi tak banyak orangtua merasa kaget atau heran, yang muncul hanyalah perasaan miris. Bagaimana tidak? Tawuran antar pelajar saat ini sepertinya sudah menjadi hal biasa dalam berita saat ini. Bukannya makin membaik, kasusnya makin parah.
Dari yang cuma menyebabkan luka ringan, hingga tak sedikit yang akhirnya meregang nyawa. Masalah ini menjadi masalah yang sangat serius setelah korupsi, karena bagaimana bangsa akan bertumbuh dengan baik jika sudah bermasalah dari saat masih menjadi anak-anak?
Anehnya semua pihak yang terkait dengan masalah ini tak ingin disalahkan. Pihak orangtua merasa sekolah punya andil terhadap penananman budi pekerti para siswanya. “Kalau mereka dididik dengan baik oleh gurunya, tak mungkin mereka suka berkelahi,” suara orangtua mencari pembenar.
Kalangan guru pun tak kalah sengitnya membela diri. “Anak-anak yang suka tawuran menunjukkan perhatian dan pembekalan orangtua telah gagal dalam menanamkan pendidikan akhlak dan berperilaku,” sanggah para guru. Kalau mencari salah dan benar ini diberi ruang, sudah pasti tak akan pernah habisnya.
Sebetulnya, tahukah Anda ‘bakat’ tawuran sebetulnya sudah mulai terlihat ke masa 1.000 hari pertama umur mereka sejak ada dalam kandungan hingga lahir?

Pemenuhan nutrisi dan gizi anak sejak dalam kandungan menentukan kehidupan anak itu. Penelitian epidemiologis menunjukkan ada hubungan antara isu kesehatan jangka panjang dan gizi awal anak. Kelebihan atau kekurangan gizi pada masa kanak-kanak bisa memengaruhi emosi. Juga di saat dewasa bisa mengidap obesitas (kegemukan), diabetes, penyakit jantung, darah tinggi, mudah emosi, dan lain-lain.

"Kalau saat ini remaja banyak yang terlibat tawuran, perlu dilihat kembali nutrisi pada 1.000 hari pertama umur mereka," kata Dr dr Saptawati Bardosono, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Bisa jadi, kata dia, para pelajar yang rata-rata berusia remaja itu terlibat dalam kasus perkelahian antarpelajar karena kurang mendapat nutrisi saat 1.000 hari pertama kehidupannya. Apalagi, pada 1998, terjadi krisis ekonomi. Sangat mungkin asupan gizi mereka saat itu kurang karena harga-harga kebutuhan melonjak drastis. Pada 1998 itu, para pelajar yang terlibat tawuran saat ini masih berusia antara 0-3 tahun.

Meskipun masih perlu didalami dan dilakukan penelitian yang lebih lagi, kekurangan gizi atau nutrisi saat krisis ekonomi itu sangat mungkin terjadi.

"Jika nutrisi pada 1.000 hari pertama umur anak tidak terpenuhi, akan terjadi gangguan fungsi otak. Secara kognitif, apa yang dipikirkan, dirasakan, diatur oleh otak. Jika fungsi otak bermasalah, perilaku juga bermasalah: emosional, cepat marah," kata dia.

Permasalahan nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak itu dibahas dalam simposium "The Importance of Early Life Nutrition to Support Long Term Health" di Yogyakarta, Sabtu kemarin, 29 September 2012. Acara itu diselenggarakan oleh Perhimpunan Nutrisi Indonesia, Fakultas Kedokteran UGM, dan didukung oleh PT Nutricia Indonesia Sejahtera.

Di Yogyakarta, pemenuhan gizi bagi anak termasuk bagus. Pada 2010, kota itu memiliki prevalensi gizi anak bawah lima tahun (balita) yang cukup baik dibandingkan dengan status gizi nasional. Khususnya prevalensi balita berat badan kurang, balita kurus, dan balita pendek.

Prevalensi berat badan kurang pada balita sebesar 11,2 persen, atau peringkat ketiga terbaik secara nasional. Balita kurus tercatat hanya 9,1 persen, ini paling rendah keempat secara nasional. Sedangkan prevalensi balita pendek mencapai 22,5 persen, yang merupakan kondisi paling rendah secara nasional.

"Data riset kesehatan dasar menunjukkan angka status gizi di Daerah Istimewa Yogyakarta cukup baik dibandingkan rata-rata nasional," kata Profesor Dr Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, ScD, Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM dilansir tempo.

Ia menyatakan, meskipun prevalensi balita pendek masih tinggi, perlu upaya yang lebih untuk mengurangi angka prevalensi itu. Maka harus ada upaya terintegrasi untuk mencapai sasaran jangka panjang Gerakan Nasional Sadar Gizi yang sudah dicanangkan pada 2012 ini.

Direktur Medis Nutricia Indonesia Sejahtera Swissanto Soerojo menambahkan, inisiatif gerakan 1.000 hari pertama kehidupan merupakan salah satu contoh program yang memerlukan kemitraan sektor publik dan swasta.

"Untuk menemukan solusi yang holistik bagi permasalahan nutrisi anak, perlu ada kemitraan antara komunitas kesehatan masyarakat, swasta, dan pemerintah," kata dia. tmp

Ini Alasan Mereka Mudah Emosi
SEPERTINYA pergaulan anak zaman sekarang makin tidak dapat dikendalikan. Emosi yang mudah terpancing menguasai diri mereka hingga dapat menimbulkan efek yang negatif. Salah satunya tawuran yang terjadi belakang ini. Mereka melakukannya tanpa ada alasan yang kuat. Lalu, apa penyebab remaja melakukan hal tersebut?

Menanggapi hal tersebut, Psikolog dan Dosen Muda Universitas Padjadjaran Bandung Fredrick Dermawan Purba mengatakan, ada banyak alasan hal itu dilakukan oleh para remaja. Hal itu karena mereka memasuki tahap peralihan dari anak ke masa dewasa, sehingga semua itu dapat berubah-ubah. Mulai dari perubahan fisik, biologis hormonal, perubahan kognitif, emosional, juga perubahan bagaimana relasinya di lingkungan sosial.

"Di satu sisi, tekanan dari lingkungan luar, seperti sekolah, teman, dan masyarakat itu sendiri yang mengambang di tengah-tengah diri mereka," tutur pria yang akrab disapa Bang Jeki ini seperti dilansir okezone.

Menurutnya, terlibat dalam tawuran itu dapat terjadi karena beberapa faktor. Yang pertama adalah faktor mengenai kematangan otak. Di bagian otak ada yang disebut amygdala, di mana merupakan bagian otak yang terlibat atau merupakan pusat dari proses informasi terkait dengan emosi. Jadi, ketika para remaja terstimulasi oleh emosi, amygdala yang bereaksi mengontrol diri mereka.

"Nah, selain amygdala, ada bagian otak di depan yang letaknya tepat di dahi kita, disebut prefontal korteks. Otak inilah yang tingkat kemampuan berpikirnya tinggi," tambahnya.

Lalu, apa hubungannya itu semua dengan perihal tawuran? Pria berkacamata dan ramah ini menuturkan bahwa amygdala itu matang terlebih dahulu dibandingkan pre-frontal cortex, yang artinya saat masuk dalam masa remaja secara biologis, pikiran mereka lebih mudah terstimulasi. Itulah alasannya jika terjadi sesuatu mereka langsung cepat bereaksi dan bertindak tanpa berpikir panjang. Hal ini karena pre-frontal cortex mereka yang belum matang.

"Itu salah satu penyebab remaja rentan melakukan tindakan-tindakan berisiko. Karena emosional mereka yang ditantang oleh lingkungan sekitarnya, hal itu yang membuat mereka bertindak tanpa memikirkan akibat dari tindakan mereka nantinya," tutupnya.
Dari sisi psikologis, sebenarnya apa yang menyebabkan pelajar begitu brutal dan suka menyelesaikan masalah menggunakan kekerasan?
4 faktor ini menjadi alasan di balik ringkihnya mental pelajar:
1. Faktor internal
Ketidakmampuan/kurang mampunya beradaptasi dengan lingkungan sosial yang kompleks menimbulkan tekanan pada setiap orang. Terutama pada remaja yang mentalnya masih labil dan masih dalam pencarian jati diri dan tujuan hidup. Kekompleksan seperti keberagaman budaya, kemampuan ekonomi dan pandangan tidak bisa diterima sehingga dilampiaskan lewat kekerasan.
Saat tidak mampu beradaptasi, rasa putus asa, menyalahkan orang lain dan memilih cara instan untuk memecahkan persoalan membuat rasa frustasi semakin mengendalikan emosi pelajar yang labil. Ketidakpekaan terhadap perasaan sesamanya mengakibatkan pelajar tega menganiaya hingga membunuh sesamanya. Sebenarnya, dalam diri mereka butuh pengakuan.
2. Faktor keluarga
Jika keluarga tidak bahagia, bahkan ada kekerasan dalam rumah tangga akan berdampak pada mental psikologis anak. Secara tidak langsung, remaja akan meniru pola yang ia lihat di dalam keluarganya. Anak yang terlalu dilindungi orangtuanya (dimanja) juga akan sama saja. Saat bergabung dalam kelompok sosialnya di sekolah, ia akan menyerahkan diri secara total tanpa memiliki kepribadian dan prinsip yang kuat.
Penyesuaian emosional yang kurang memadai ditambah dengan kelompok sosial yang tidak benar semakin memungkinkan terjadinya tawuran antar pelajar.
3. Faktor sekolah
Kebosanan di dalam ruang belajar mengajar seperti tindak belajar mengajar yang monoton, tidak mengijinkan siswa untuk bertindak kreatif, terlalu mengekang dan otoriter juga menjadi pengaruh. Sebagian besar hidup remaja juga dihabiskan di sekolah, tempat ia belajar sekaligus mengekspresikan dirinya. Tak heran jika sekolah sering disebut sebagai rumah kedua.
Siswa yang bosan akan memilih untuk bersenang-senang di luar sekolah. Guru sekolah dinilai sebagai pihak otoriter yang gemar menghukum siswanya ketimbang mendidik dalam arti yang sebenarnya.
4. Faktor lingkungan
Faktor ini jauh lebih luas daripada lingkungan rumah remaja. Lingkungan ini juga berbicara sekolah, media televisi, media cetak dan ketidakpuasan atas negara atau fasilitas negara. Jika diruntut dari faktor lingkungan, media-media dan teladan pemerintah juga menjadi sorotan atas tawuran pelajar.  Rasa solidaritas yang diberikan remaja, seringkali berada di jalur yang salah. Sebaiknya perlu ditekankan ulang akan pentingnya mengendalikan rasa solidaritas dengan akal pikiran sehat dan jiwa toleransi antar manusia yang tinggi. Solidaritas tidak selalu ikut-ikutan dalam hal buruk.
Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar

Tukar Link Disini :

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Templates


Informasi Sidoarjo 2012. Diberdayakan oleh Blogger.